Sampingan

WAYANG

          Wayang adalah pedalangan dan drama tradisional Indonesia, yang sudah digemari oleh rakyat Indonesia sejak zaman prasejarah sampai sekarang. Wayang yang berasal dari kata bayang, mulai pada zaman purbakala sebagai upacara memanggil arwah dengan memasang lampu minyak kelapa dan menayangkan bayangan pada dinding atau kain putih yang dibentangkan. Wayang kemudian berkembang sejak abad ke-9 dan ke-IO sebagai media untuk pementasan lakon-lakon yang diciptakan bertemakan sastra epos Ramayana dan Mahabharata, dan kemudian sejak abad-abad pertengahan diciptakan pula lakon-lakon bertemakan agama Islam. Jenis-jenis wayang berkembang pesat dari zaman ke zaman, sehingga pada saat ini, terdapat lebih dari 60 jenis wayang, tersebar di seluruh Indonesia.

Beberapa jenis wayang berupa boneka 2 dimensi, terbuat dari kulit, dioperasikan oleh dalang di depan layar kain diterangi oleh lampu, dapat ditonton dari depan atau dari belakang layar, misalnya Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Beberapa jenis wayang terdiri dari boneka-boneka tiga dimensi terbuat dari kayu, misalnya Wayang Golek Sunda. Adapun wayang

yang peran-perannya dimainkan oleh manusia, misalnya Wayang Orang, bahkan ada yang menggunakan gambar pada gulungan kain (Wayang Beber) atau yang tidak memakai alat bantu sama sekali, tetapi hanya suara dan gerak tubuh manusia (Wayang Jemblung Banyumas).

Wayang istiwewa sebagai bentuk kesenian karena memiliki sifat-sifat yang dalam bahasa Jawa disebut adiluhung dan edipeni, yaitu sangat agung dan luhur, dan juga sangat indah (etika dan estetika). Para sarjana dunia telah menyebutkan wayang sebagai bentuk drama yang paling canggih di dunia. Wayang berfungsi sebagai tontonan dan tuntunan, dan merupakan gabungan lima jenis seni; yakni.

1. Seni Widya (filsafat dan pendidikan)

2. Seni Drama (pentas dan musik karawitan)

3. Seni Gatra (pahat dan seni lukis)

4. Seni Ripta (sangit dan sastra)

5. Seni Cipta (konsepsi dan ciptaan-ciptaan baru)

TOKOH PANDAWA DALAM KESENIAN WAYANG


oleh: Sutini, BA

Gambar

Dalam Nawasari Warta Edisi II telah disebutkan bahwa salah satu jenis wayang adalah wayang Purwa. Di Museum Mpu Tantular Wayang Purwa dipamerkan di Ruang VII yaitu Ruang Koleksi Kesenian.
Untuk mengenal lebih dekat dengan wayang Purwa, maka kita harus mencoba untuk mengenal para pelaku dari wayang tersebut. Biasanya wayang Purwa ceriteranya berkisar antara ceritera Mahabarata atau Ramayana. Dalam ceritera Mahabarata ada pihak PANDAWA dan pihak KURAWA. Untuk kali ini hanya membahas tentang TOKOH PANDAWA.
Asal Usul
Prabu Pandu Dewanata mempunyai dua orang isteri yaitu Dewi Kuntitalibrata dengan Dewi Madrim. Prabu Pandu adalah putra Raden Abiyasa raja dari Astina, sedangkan Dewi Kuntitalibrata adalah putri dari Prabu Kuntibojo raja Mandura, dan Dewi Madrim adalah putri dari Prabu Mandrapati raja Mandraka.
Dari perkawinan Pandu dengan Kunti menghasilkan 3 putra yaitu: Puntadewa, Bratasena dan Arjuna, sedangkan dari perkawinannya dengan Madrim menghasilkan 2 putra, yaitu: Nakula dan Sadewa, yang dilahirkan kembar. Tetapi kedua anak kembar ini mulai kecil diasuh oleh ibu Kunti karena ditinggal mati ayah dan ibunya (Madrim).
Ketika mengasuh anak Kunti tidak pernah membedakan antara satu dengan lainnya, atau antara anak tiri dengan anak kandung yang dididik dengan cinta kasih seorang ibu sampai menjadi dewasa. Kunti adalah pencerminan seorang IBU yang patut diteladani.
Kelima anak Prabu Pandu itulah yang disebut dengan PANDAWA
1. PUNTADEWA.

Gambar

adalah raja negara Amarta atau Indrapasta. Setelah perang Baratayuda Puntadewa menjadi raja Astina yang bergelar Prabu Kalimataya. Nama lain yang dipakai adalah: Darmawangsa, Darmakusuma, Kantakapura, Gunatalikrama, Yudistira, Sami Aji (sebutan dari Prabu Kresna). Sifatnya: jujur, sabar, hatinya suci, berbudi luhur, suka menolong sesama, mencintai orang tua serta melindungi saudara-saudaranya.
Pusakanya bernama: Jamus Kalimasada, yang mempunyai kekuatan sebagai perlindungan dan petunjuk pada kebenaran serta kesejahteraan. Mempunyai dua isteri yaitu: Dewi Drupadi dan Dwi Kuntulwilaten.

2. BRATASENA.

Gambar

Setelah dewasa bernama Werkudara. adalah ksatria Jodipati dan Tunggulpamenang. Pernah menjadi raja di Gilingwesi, dengan gelar Prabu Tuguwasesa. Nama lain yang dipakai adalah: Bima, Bayusutu, Dandun Wacana, Kusuma Waligita. Sifatnya: jujur, tidak sombong, jiwanya suci, sangat patuh kepada guru-gurunya (terutama dengan Dewa Ruci), mencintai ibunya serta menjaga saudara-saudaranya. Bila berperang semboyannya adalah menang, bila kalah berarti mati. Bratasena adalah merupakan suri tauladan kehidupan dengan sifat yang jujur dan jiwanya suci.
Pusakanya adalah: Kuku Pancanaka di tangan kanan dan kiri sangat ampuh, sangat kuat dan tajam. Selain kuku pancanaka Werkudara juga mempunyai kekuatan angin (lima kekuatan angin), serta dapat membongkar gunung. Mempunyai dua permaisuri yaitu: Arimbi dan Nagagini. Dengan Arimbi mendapatkan putra bernama Gatotkaca, yang dapat terbang tanpa sayap. Dari perkawinannya dengan Nagagini memperoleh putra bernama Antasena yang dapat masuk ke dalam bumi dan menguasai samodra. Bratasena pada waktu lahir dalam keadaan bungkus. Yang menyobek bungkus tersebut adalah Gajah Situ Seno. Pada waktu itu Gajah Situ Seno masuk ke dalam tubuh Bratasena, sehingga mempunyai kekuatan luar biasa dan bisa menyobek bungkus tersebut. Werkudara adalah tokoh yang menguasai keamanan, kekuatannya tidak tertanding, apalagi dengan kehadiran kedua putranya dimana Gatotkaca menguasai keamanan samodra (laut) dan darat. Arjuna adalah tokoh yang sakti, pemanah yang ulung, suka menolong sesama, rasa kemanusiaannya tinggi, tutur katanya lembut, ahli dalam bidang kebudayaan dan kesenian, ahli dalam bidang bertapa. Tetapi ada satu hal kelemahannya yaitu terlalu banyak istri. Pada jaman dulu istri merupakan lambang kehormatan, bisa juga sebagai upeti waktu memenangkan perang, berbeda halnya dengan sekarang apalagi dengan adanya PP. 10 th. 1983 yang mengatur tentang perkawinan.
3. ARJUNA.

Gambar
adalah ksatria Madukara, juga menjadi raja di Tinjomoya. Nama lain yang dipakai sangat banyak, antara lain: Janaka, Parta, Panduputra, Kumbawali, Margana, Kuntadi, Indratanaya, Prabu Kariti, Palgunadi, Dananjaya. Sifatnya: Suka menolong sesama, gemar bertapa, cerdik dan pandai, ahli dibidang kebudayaan dan kesenian.
Arjuna adalah ksatria yang sakti mandraguna, kekasih para Dewa, ia adalah titisan Dewa Wisnu. Istri Arjuna banyak sekali, ia dijuluki lelananging jagad, parasnya sangat tampan dan tidak ada tandingannya. Permaisurinya di arcapada adalah Wara Sumbadra dan Wara Srikandi. Selain itu masih banyak lagi istri-istrinya antara lain: Rarasati, Sulastri, Gandawati, Ulupi, Maeswara, dsbnya.
Permaisuri di kahyangan antara lain Dewi Supraba, Dewi Dersanala pada bidadari di Tinjomaya. Arjuna berjiwa ksatria, berjiwa luhur, suka menolong, serta kesayangan para Dewa. Tetapi ada kelemahan yang tidak boleh diteladani dan ditrapkan pada jaman sekarang yaitu beristri banyak.
4. NAKULA.

Gambar
adalah anak ke empat Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Madrim yang lahir kembar dengan Sadewa. Ayah dan ibunya (Madrim) meninggal pada waktu si kembar masih kecil, oleh karena itu sejak kecil mereka diasuh oleh ibu Kunti dengan tidak membedakan antara satu dengan lainnya.
Setelah perang Bratajuda Nakula dan Sadewa menjadi raja di Mandraka dengan Sadewa. Nama lain adalah Raden Pinten. Nakula adalah ahli dalam bidang Pertanian. Pada waktu perang Baratayuda, Nakula dan Sadewa yang bisa meluluhkan hati Prabu Salya (dari pi- hak Kurawa). Sebab Prabu Salya adalah saudara Dewi Madrim, selain itu sebenarnya dalam hatinya memihak pada kebenaran yaitu Pandawa. Akhirnya Prabu Salya memberitahukan kepada Nakula dan Sadewa bahwa yang bisa mengalahkannya hanyalah Puntadewa, karena Puntadewa berdarah putih.
5. SADEWA.

adalah anak kelima Prabu Pandu dengan Madrim, dilahirkan kembar dengan Nakula. Setelah perang Baratayuda Sadewa menjadi raja dengan Nakula di Mandraka. Nama kecil Sadewa adalah raden Tangsen. Sadewa adalah ahli dalam bidang peternakan.
Ia kawin dengan Endang Sadarmi, anak Bagawan Tembangpetra dari Pertapaan Parangalas, dan mempunyai putra bernama Sabekti.
Dengan adanya sifat-sifat Pandawa yang seperti tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Pandawa, kerajaan Amarta menjadi kerajaan yang kuat, aman, adil dan makmur. Hal ini dapat dibuktikan selain dengan sifat-sifat mereka yang jujur, membela kebenaran dan sebagainya, juga berkat kemampuan disegala bidang. Puntadewa adalah ahli dalam bidang kerohanian, ahli dalam hal bertapa, ia berdarah putih, tokoh ini mementingkan perdamaian, persatuan, kesejahteraan bersama.


Si Kembar Nakula dan Sadewa adalah tokoh yang mencerminkan tingkah laku untuk mencapai kesejahteraan/kemakmuran hidup, karena Nakula adalah ahli dan tekun dalam bidang pertanian, sedangkan Sadewa ahli dan tekun dalam bidang peternakan.
Sebenarnya Pandawa masih mempunyai saudara tua yang bernama Adipati Karno, semasa kecil dinamakan Suryatmaja. Suryatmaja adalah putra Dewi Kunti dengan Dewa Surya sebelum menikah dengan Pandu. Ini disebabkan adanya perbuatan serong Dewa Surya yang bisa mengakibatkan Kunti menjadi hamil. Akhirnya Dewa Surya ber tanggung jawab atas perbuatannya itu dengan jalan, pada waktu melahirkan bayi (Suryatmaja) keluar lewat telinga, dengan demikian maka Kunti dianggap masih suci.

Bayi yang diberi nama Suryatmaja kemudian dilarung (dihanyutkan) disungai Yamuna yang kemudian diketemukan oleh Prabu Radeya di Petapralaya (dibawah kokuasaan Astian). Karena merasa dibesarkan dan mukti wibawa di Astina, maka pada waktu perang Baratayuda Adipati Karna berjuang dengan gagah berani untuk membela negaranya. Ia menjadi senapati perang di pihak Astina, tetapi akhirnya karna gugur oleh adiknya sendiri yaitu Arjuna.
Adipati Karna adalah suri tauladan sebagai pahlawan yang gigih membela negara, meskipun rajanya (Astina) dipihak yang salah tetapi bagaimanapun juga negaranya harus dibela dari kehancuran, yang dibuktikan sampai titik darah penghabisan.

Sumber : buku Nawasari warta edisi III pebruari 1996

a. Wayang Beber berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter, yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu. Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya, dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu. Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji.

Jenis wayang ini oleh sebagian orang dianggap yang paling tua, tetapi sebagian lainnya mengatakan Wayang kulitlah yang paling mula diciptakan orang di Pulau Jawa. Sampai tahun 1986, masih ada dua orang juru sungging (pelukis) Wayang beber. Yang satu tinggal di Surakarta, di kampung Kadipiro, namanya Hadisuwarno. Sedangkan yang seorang lagi bernama Musyafiq, tinggal di Surabaya.

b. Wayang Kulit Purwa merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana.  Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh.

Agar lembaran wayang itu tidak lemas, digunakan “kerangka penguat” yang mem­buatnya kaku. Kerangka itu disebut cempurit, terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu. Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi, bahkan juga di Suriname  di benua Amerika bagian selatan.

Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi wanita yang menyanyikan gending-­gending tertentu, disebut pesinden atau waranggana.

Antara dalang, pesinden, gamelan di satu sisi dan penonton di sisi lain dibatasi oleh sebuah layar kain berukuran sekitar 125 cm X 600 cm, yang disebut kelir. Di atas dalang dipasang lampu yang disebut blencong. Dengan memainkan wayang di sinar blencong, penonton di balik kelir dapat menyaksikan gerak bayangan wayang itu. Dalam bahasa Jawa, wayang atau wewayangan memang berarti bayangan.

Semula pergelaran Wayang Kulit selalu dilakukan pada malam hari, semalam suntuk. Karena itulah diperlukan alat penerangan, semacam lampu minyak yang disebut blencong. Baru mulai tahun 1930-an beberapa dalang mulai mempergelarkan Wayang Kulit Purwa pada siang hari. Kemudian, sejak tahun 1955­an beberapa orang dalang muda memprakarsai pemampatan waktu pergelaran menjadi hanya sekitar empat jam. Upaya memampatkan pergelaran wayang menjadi empat jam atau kurang ini, terutama hanya untuk melayani para wisatawan manca negara yang umumnya tidak betah menonton pertunjukan seni yang berlama-lama.

Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti “bayangan”.

Jika ditinjau dari arti filsafatnya “wayang” dapat diartikan

sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifatsifat

yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara

murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.

Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera wayang.

Dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh

beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang

waranggana

sebagai vokalisnya.

Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga

mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang

bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan

dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang

akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.

Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya

pertunjukan secara keseluruhan. Dialah yang memimpin

semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang

disajikan.

Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus

ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut.

Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa

menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh

yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus

mengerti tentang

gending (lagu).

Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan

wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan

wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai

untuk menancapkan

wayang.

Dalam pertunjukan wayang dikenal set kanan dan set kiri.

Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satriasatria

pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set

kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka. Walaupun

demikian ketentuan ini tidak mutlak.

Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan

pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa

gunungan.

Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun

malam

hari, atau sehari semalam.

Lama pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7

sampai 8

jam.

Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi

pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa

pelog dan slendro, tetapi bila tidak lengkap yang biasa

digunakan

adalah dan jenis slendro saja.

Vokalis putri dalam iringan musik yang disebut

waranggono

bisa satu orang atau lebih.

Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut

penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6

orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara

“koor”.

Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap

oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah

juga penggerong.

Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang

dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan

kehendaknya.

Ia dibatasi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah:

(1) jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat

peragaan;

(2) kepercayaan masyarakat sekitarnya;

(3) keperluan diadakannya pertunjukan tersebut.

Jenis wayang akan mempengaruhi lakon yang bisa

disajikan lewat wayang-wayang tersebut.

Seperangkat wayang kulit misalnya hanya dapat dipakai

untuk memainkan ceritera-ceritera dari Mahabarata atau

Ramayana.

Wayang kulit tidak bisa di pakai untuk menampilkan

babad Menak.

Sebaliknya perangkat wayang golek tidak dapat

digunakan untuk melakonkan Mahabarata, ini

dikarenakan tokoh tokoh yang ada dalam wayang-wayang

tersebut memang sudah dibuat untuk pementasan lakonlakon

(ceritera-ceritera) tertentu.

Dalam suatu masyarakat, terutama masyarakat pedesaan,

yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat

peninggalan para leluhurnya, banyak kita jumpai

pantangan-pantangan atas suatu lakon tertentu untuk

pertunjukan wayang.

Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon

Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara

perayaan perkawinan.

Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa

keluarga tersebut akan mengalami kesusahan.

Entah akan ada anggota keluarga yang meninggal, akan

terjadi perceraian dalam keluarga tersebut, atau

malapetaka lainnya.

Di daerah-daerah pedesaan juga masih banyak kita jumpai

upacara-upacara adat yang diselenggarakan dengan

pertunjukan wayang. Untuk suatu upacara tertentu, lakon

wayang yang dipentaskan juga tertentu.

Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen,

lakon yang harus dipertunjukkan adalah “Kondure Dewi

Sri” (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara

ngruwat lakonnya adalah Batara Kala.

Selain batasan-batasan ini lakon wayang sering kali juga

ditentukan oleh permintaan penanggap2 atau atas

kesepakatan antara pihak dalang dan penanggap wayang.

Mengenai asal mula timbulnya wayang di Indonesia

pendapat dari beberapa ahli dapat digunakan sebagai

pedoman untuk memaparkan hal ini.

Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat

disampaikan oleh Sri Mulyono. Mengenai timbulnya

pertunjukan wayang ini Mulyono berpendapat bahwa

pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli,

yaitu dengan segala sarana pentas / peralatannya yang

serba sederhana, yang pada garis besarnya sama dengan

yang sekarang kita lihat, yaitu dengan menggunakan

wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong,

kepyak, kotak dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan

berasal dan merupakan hasil karya orang Indonesia asli di

Jawa, sedangkan timbulnya jauh sebelum kebudayaan

Hindu datang.

Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan

upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan

dengan kepercayaan untuk menuju “Hyang”, dilakukan di

malam hari oleh seorang medium (syaman) atau

dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan

mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek

moyangnya.

Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan

berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon

pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan

memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas.

Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman

Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM.

Dalam perkembangannya kemudian upacara ini

dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau

menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut

dalang.

Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan

wayang kemudian terus berkembang setahap demi

setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya,

yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan

sistim kepercayaan dan pendidikan.

Berkenaan dengan perkembangan kesenian wayang ini

sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, Yogyakarta

telah memberikan tempat hidup yang subur bagi kesenian

wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah

dalang Habiranda pada tahun 1925 di kota ini.

Kini para dalang lulusan sekolah Habiranda banyak

tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat

Jawa, ternyata ada beberapa jenis yaitu: Wayang Kulit/

Purwa; Wayang Klithik; Wayang Golek dan Wayang

Orang.

Wayang Kulit Purwa

 

Sesuai dengan namanya, wayang kulit terbuat dari kulit

binatang (kerbau, lembu atau kambing). Wayang kulit

dipakai untuk memperagakan Lakon lakon dari Babad

Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana, oleh karena itu

disebut juga Wayang Purwa.

Sampai sekarang pertunjukan wayang kulit disamping

merupakan sarana hiburan juga merupakan salah satu

bagian dari upacara-upacara adat seperti: bersih desa,

ngruwat dan lain-lain.

Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara

lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang

pendukung. Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai

waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan

merangkap wiraswara.

Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai

8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Bila

dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai

dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00.

Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan

konsep pentas yang bersifat abstrak. Arena pentas terdiri

dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di

bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan

wayang.

Dalam pertunjukan wayang kulit, jumlah adegan dalam

satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan

berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau

tergantung dalangnya.

Sebagai pra-tontonan adalah tetabuhan yang tidak ada

hubungannya dengan ceritera pokok, jadi hanya bersifat

sebagai penghangat suasana saja atau pengantar untuk

masuk ke pertunjukan yang sebenarnya.

Sebagai pedoman dalam menyajikan pertunjukan wayang

kulit biasanya seorang dalang akan menggunakan pakem

pedalangan berupa buku pedalangan.

Namun ada juga dalang yang menggunakan catatan dari

dalang-dalang tua yang pengetahuannya diperoleh lewat

keturunan. Meskipun demikian, seorang dalang diberi

kesempatan pula untuk berimprovisasi, karena pakem

pedalangan tersebut sebenarnya hanya berisi inti ceritera

pokok saja.

Untuk lebih menghidupkan suasana dan membuat

pertunjukan menjadi lebih menarik, improvisasi serta

kreativitas dalang ini memegang peranan yang amat

penting. Warna rias wajah pada wayang kulit mempunyai

arti simbolis, akan tetapi tidak ada ketentuan umum di

sini.

Warna rias merah untuk wajah misalnya, sebagian besar

menunjukkan sifat angkara murka, akan tetapi tokoh

Setyaki yang memiliki warna rias muka merah bukanlah

tokoh angkara murka. Jadi karakter wayang tidaklah

ditentukan oleh warna rias muka saja, tetapi juga

ditentukan oleh unsur lain, seperti misalnya bentuk

(patron) wayang itu sendiri.

Tokoh Arjuna, baik yang mempunyai warna muka hitam

maupun kuning, adalah tetap Arjuna dengan sifat-sifatnya

yang telah kita kenal. Perbedaan warna muka seperti ini

hanya untuk membedakan ruang dan waktu

pemunculannya. Arjuna dengan warna muka kuning

dipentaskan untuk adegan di dalam kraton, sedangkan

Arjuna dengan warna muka hitam menunjukkan bahwa

dia sedang dalam perjalanan. Demikian pula halnya

dengan tokoh Gatotkaca, Kresna, Werkudara dan lainlain.

Perbedaan warna muka wayang ini tidak akan diketahui

oleh penonton yang melihat pertunjukan dari belakang

layar.

Alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan wayang

kulit dari dahulu sampai sekarang telah banyak

mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan

teknologi. Dalam bentuk aslinya alat penerangan yang

dipakai pada pertunjukan wayang kulit adalah blencong,

kemudian berkembang menjadi lampu minyak tanah

(keceran), petromak, sekarang banyak yang menggunakan

lampu listrik.

Wayang Klithik

Wayang klithik terbuat dari kayu dengan dua dimensi

(pipih) yang hampir mendekati bentuk wayang kulit.

Terdapat persamaan antara wayang kulit dengan wayang

klithik, misalnya pada gamelan, vokalis, bahasa yang

digunakan dalam dialog, desain lantai, alat penerangan

yang dipakai dalam pertunjukan dan lain-lain. Meskipun

demikian, banyak juga kita jumpai perbedaanperbedaannya.

Pertunjukan wayang klithik umumnya hanya berfungsi

sebagai tontonan biasa yang kadang-kadang di dalamnya

diselipkan penerangan-penerangan dari pemerintah.

Setting panggung sedikit agak berbeda dengan wayang

kulit.

Wayang klithik ini meskipun desain lantainya berupa

garis lurus, tetapi tidak menggunakan layar, untuk

menancapkan wayang digunakan bambu yang sudah

dilubangi.

Ceritera yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang

klithik diambil dari ceritera babad, dan umumnya hanya

diambil dari babad Majapahit, mulai dari masuknya

Damarwulan menjadi abdi sampai dia menjadi raja.

Dalang dalang wayang klithik umumnya memperoleh

pengetahuan tentang kesenian dari orang tua mereka yang

juga dalang wayang klithik. Lembaga pendidikan untuk

dalang wayang klithik tidak dijumpai, sebab wayang

klithik memang kurang populer dalam masyarakat.

Wayang Golek

Seperti halnya wayang klithik wayang golek juga terbuat

dari kayu, tetapi wayang golek memiliki tiga dimensi

(seperti boneka). Wayang golek ini lebih realis dibanding

dengan wayang kulit dan wayang klithik, sebab selain

bentuknya menyerupai bentuk badan manusia dia juga

dilengkapi dengan kostum yang terbuat dari kain.

Pertunjukan wayang golek selain untuk tontonan biasa,

juga masih sering dipentaskan sebagai upacara bersih

desa.

Lakon yang diperagakan berasal dari babad Menak yaitu

sejarah tanah Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad

S.A.W.

Menurut keterangan, ceritera ini dikarang oleh Pujangga

Ronggowarsito.

Berbeda dengan wayang kulit, warna rias muka wayang

golek cukup jelas penggolongan simbolisnya, yakni

sebagai berikut:

(1) warna merah untuk watak kemurkaan,

(2) warna putih untuk watak baik dan jujur,

(3) wama merah jambu untuk watak setengah-setengah,

(4) warna hijau untuk watak tulus,

(5) warna hitam untuk watak kelanggengan.

Kostum wayang juga menunjukkan status dan

peranannya. Misalnya saja, kostum topong adalah untuk

peran raja, kostum jangkangan untuk peran satria, kostum

jubah untuk peran pendeta, kostum rompi untuk peran

cantrik, dan kostum serban untuk peran adipati.

Pendidikan kesenian dalang wayang golek juga mirip

wayang klithik, yaitu berasal dari pengalaman atau ajaran

orang tua yang juga dalang.

Wayang Orang

Wayang Orang merupakan bentuk perwujudan dari

wayang kulit yang diperagakan oleh manusia. Jadi

kesenian wayang orang ini merupakan refleksi dari

wayang kulit. Bedanya, wayang orang ini bisa bergerak

dan berdialog sendiri.

Fungsi dan pementasan Wayang Orang, disamping

sebagai tontonan biasa kadang-kadang juga digunakan

untuk memenuhi nadzar.

Sebagaimana dalam wayang kulit, lakon yang biasa

dibawakan dalam Wayang Orang juga bersumber dari

Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana. Kesenian

Wayang Orang yang hidup dewasa ini pada dasarnya

terdiri dari dua aliran yaitu gayaSurakarta dan gaya

Yogyakarta.

Perbedaan yang ada di antara dua aliran terdapat terutama

pada intonasi dialog, tan, dan kostum. Dialog dalam

Wayang Orang gayaSurakarta lebih bersifat realis sesuai

dengan tingkatan emosi dan suasana yang terjadi, dan

intonasinya agak bervariasi.

Dalam Wayang Orang gayaYogyakarta dialog

distilisasinya sedemikian rupa dan mempunyai pola yang

monoton.

Hampir semua group Wayang Orang yang dijumpai

menggunakan dialog gayaSurakarta. Jika toh ada

perbedaan, perbedaan tersebut hanya terdapat pada tarian

atau kadangkadang pada kostum.

Untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang

secara lengkap, biasanya dibutuhkan pendukung sebanyak

35 orang, yang terdiri dan:

(1) 20 orang sebagai pemain (terdiri dari pria dan wanita);

(2) 12 orang sebagai penabuh gamelan merangkap

wiraswara;

(3) 2 orang sebagai waranggana;

(4) 1 orang sebagai dalang.

Dalam pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang

juga merupakan sutradara tidak seluas seperti pada

wayang kulit. Dalang wayang orang bertindak sebagai

pengatur perpindahan adegan, yang ditandai dengan suara

suluk atau monolog.

Dalam dialog yang diucapkan oleh pemain, sedikit sekali

campur tangan dalang. Dalang hanya memberikan

petunjuk-petunjuk garis besar saja. Selanjutnya pemain

sendiri yang harus berimprovisasi dengan dialognya

sesuai dengan alur ceritera yang telah diberikan oleh sang

dalang.

Pola kostum dan make up Wayang Orang disesuaikan

dengan bentuk (patron) wayang kulit, sehingga pola

tersebut tidak pernah kita temukan dalam kehidupan

sehari-hari. Pertunjukan Wayang Orang menggunakan

konsep pementasan panggung yang bersifat realistis.

Setiap gerak dari pemain dilakukan dengan tarian, baik

ketika masuk panggung, keluar panggung, perang ataupun

yang lain-lain. Gamelan yang dipergunakan seperti juga

dalam wayang kulit adalah pelog dan slendro dan bila

tidak lengkap biasanya dipakai yang slendro saja.

Lama pertunjukan wayang orang biasanya sekitar 7 atau 8

jam untuk satu lakon, biasanya dilakukan pada malam

hari. Pertunjukan pada siang hari jarang sekali dilakukan.

Sebelum pertunjukan di mulai sering ditampilkan pratontonan

berupa atraksi tari-tarian yang disebut ekstra,

yang tidak ada hubungannya dengan lakon utama.

Langen Mandra Wanara

Langen Mondro Wanoro adalah suatu jenis kesenian

tradisional yang menyerupai wayang orang, akan tetapi

berbeda dalam dialog dan tariannya. Ceritera yang

dipentaskan bersumber pada kitab Ramayana dan satu

pertunjukan hanya mengambil bagian-bagian tertentu saja

dari kitab tersebut, misalnya Rahwono Gugur, Anggodo

Duto dan sebagainya.

Kesenian ini biasanya diadakan untuk keperluan upacara –

upacara perkawinan, memperingati hari besar, dan lainlain,

yang sekarang sedikit demi sedikit mengalami

perubahan dalam bentuk penyajiannya.

Untuk sebuah pementasan Langen Mondro Wanoro

dibutuhkan pendukung sebanyak ± 45 orang yang terdiri

dari pria dan wanita, yaitu 30 orang sebagai pemain, 13

orang sebagai penabuh gamelan, satu orang sebagai

waranggana dan satu orang sebagai dalang.

Fungsi dalang dalam pertunjukan ini sama dengan fungsi

dalang dalam wayang orang, yaitu sebagai pengatur laku

dan membantu aktor dalam penyampaian ceritera dengan

melakukan monolog atau suluk.

Kostum dan make up yang dipakai juga mengikuti patron

wayang kulit. Dalam menyampaikan ceritera para pemain

menggunakan dialog yang dilakukan dengan nembang

(menyanyi) sedangkan aktivitasnya di panggung

diwujudkan melalui tarian yang dilakukan dengan

jengkeng (berdiri di atas lutut).

Pertunjukan Langen Mondro Wanoro ini menggunakan

konsep pentas yang berbentuk arena dan biasanya

dilakukan di pendopo. Sebagai alat penerangan kini sudah

dipergunakan petromak. Alat musik yang dipakai adalah

gamelan Jawa lengkap yaitu pelog dan slendro, atau

slendro saja.

Pertunjukan dilakukan pada waktu malam hari selama ± 7

jam sebelum permainan dimulai biasanya didahului oleh

pra-tontonan yang berupa tetabuhan atau tari-tarian.

WAYANG

By Wahyudi, S.S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s